Listen to my thoughts and favorite tunes: On Air!

Sunday, 16 June 2013

“Please all, and you will please none.”

It's 9.36 AM. Lovely Sunday weather :)
And I don't know why, I can't stop smiling since yesterday.

Being grateful is not hard, when you're happy.
When you're down, it's way much harder.
True.

Recently, I know what I should post here.
It's kind of revelation. At least, for me. Because now, I know and understand why I react differently to my social life than I was a junior-high schooler.

I'm actually an introvert. But, nobody sees me like I'm the one, except my nuclear family and my closest friends.
Back then, I've been trying to please everyone. As if, I could do anything for them.
Some said, I was nice, funny, energetic, helpful, cheerful, smart. Everything, you name it
Despite it all, I left my opinions unspoken and it was often to follow somebody's lead.
But, what I remember when I was around 12-15 years old, life never been that easy. I enjoyed every moment in my life. Everything seemed so easy, fun, interesting.

And then, I agreed to go to school which Papa have chosen for me like for my sister.
We moved to Yogyakarta, around July 10th 2007.
Different city. Err.. It's more like town for me, though. Hehe.

New social life, new friends, new environment, new habits, new culture.
I tried to adapt. Thank God, I found nice friends. Some I still keeping in touch with them, and the rest, i don't know.

It's hard when you bump into new place, you tried to please everyone so they can be nice to you, you understand them but they might hard to understand you. I felt that I have to follow the habits here, I tried everything to fit in.
Trying to fit in new place here in Yogyakarta for the first 4 years.
Struggling with all the cultures shocks I've been through.
Questioning, why are they so slow (rarely find on-time person here, FYI, it's part of the culture.) and the food here so sweet I couldn't stand it.
The urge to go back to Jakarta was so huge, because I missed the way I lived there, how I really missed my old friends, how I missed its savory foods. Everything. I missed evey little thing of my "big city" life, back then.
Yeah. I got homesick.

I was so stressed out and acted so strange. So sensitive that even when one of my family member didn't agree with me, I cried.
Papa brought me to a pshycologist.
There you go, know that I'm that miserable, that was the ridiculous moment of my life. Terrible.
It's my past and this is not about the place, I guess, it's something to do with the ability of myself to adapt to new things.

She asked me to do 10 week sessions to diagnose what was wrong with me.
I attended all sessions with her assistant. She's nice. I still have her Facebook, anyway.
Mulai dari curhat, ngerjain semacam kuesioner kepribadian gitu, games, jalan bareng ke mall. Semuanya saya lakukan cuman dalam rangka, well, it was a kind of rehab so I could bounce back to what I used to be: optimistic, energetic, dan gak menye lagi. Hahaha.
I don't know the result. Yes, present tense.
Sampe sekarang saya gak tau hasil dari sesi-sesi itu apa aja. Mungkin cuman Papa yang tau.

Dan, diterimalah saya di sebuah universitas swasta di sini.
Kenapa swasta? Karena saya udah ikut UM dan SNMPTN buat masuk universitas negeri gak pernah lolos aja dong. Hahaha.

Okay, lanjut.

Di universitas swasta ini, saya ikut organisasi, sebuah himpunan mahasiswa sesuai jurusan yang saya ambil.
It was fun, exciting. I learned new things here, new friends also.
Sampai pada tahun ketiga, saya sebenernya udah gak terlalu niat untuk ikut organisasi ini. Pertama, capek. Kedua, saya mau meng-eksplor kegiatan lain di luar organisasi kampus, entah ikut kelas conversation maupun ikut kegiatan sosial lain di luar orang-orang yang sudah saya kenal sebelumnya. (Well, I did: joined catalyst movement. Beberapa kali ikut, makin lama makin gak bisa ikutan; makin banyaknya tuntutan kuliah dan organisasi kampus. Oke, itu excuses saya.) Kedua, saya merasa, banyak kok yang lebih kompeten dari saya untuk ngelanjutin kepengurusan organisasi ini di tahun ketiga.

Eh gak taunya, temen-temen angkatan saya banyak yang resign. Kampret.
Oke, saya mikir. Kalo ini temen-temen gak ada yang gerak, terus organisasi ini habis dong?
Sebetulnya saya bisa berkembang di situ. Tapi masa iya, tanpa mereka?
Akhirnya, ada deh yang "memprovokasi" supaya saya dan temen-temen saya keluar dari comfort zone, melakukan perubahan di tahun kepengurusan yang seharusnya jadi tahunnya angkatan saya.

Saya pun jadi tergoda, kalo gak ada yang maju, mending saya aja.
And it happened again. I followed them, not my heart. Well, saya gak nyalahin yang provokasi, saya gak anggap dia salah.
Saya aja yang setelah itu ngerasa, bahwa kapasitas saya ternyata tidak sebesar harapan mereka. You might gonna say, that I'm a whiner, spoiled little daughter-by reading this-because it turned out I wasn't that tough. Memang, saya selama ini berkembang dan banyak belajar di sana, tetapi kapasitas orang kan berbeda-beda, bisa tahan dan bisa tidak.
So, I took the decision beyond my limit.
Ya, saya lalu mengambil keputusan itu dengan tidak berpikir panjang.

Setahun ke belakang, hampir tiap hari, jujur, saya mengeluh. Kadang saya tahan, kadang saya nangis. Capek. Menyesal.

Kepengurusan udah berpindah tangan beberapa minggu yang lalu. Saya udah gak menjabat apa-apa lagi.
Less-burdened, for sure.
Despite of all the bad things happened to me, back then, somehow now I feel that it was a pleasure to know and understand how real team in organization should works. I know how to handle people, yet I still learning how to practice the right way.

Sebenarnya, saya sekarang memang gak suka ikut-ikutan lagi untuk hal yang gak saya banget atau peduli banget kata orang. Well, sometimes I still do the same thing nowadays but it rarely happens. Kalo sekarang, saya udah mulai untuk pikir-pikir dulu lah. Gak semua kata orang harus diturutin.

Contoh kecilnya aja ya.
Saya punya akun twitter. Saya hanya follow teman saya yang tweet-nya menarik, sebenarnya. Karena menurut saya, gak follow di twitter bukan berarti gak temenan di dunia nyata. Kalo ada yang mikir sebaliknya mah dangkal banget pikirannya. Maaf-maaf aja, tapi memang iya.

Terus, ada temen saya follow saya, minta di follow back. Okay, ternyata teman saya ini RT-abuser.
Rame banget dong home timeline saya. Bikin pusing, mana yang seharusnya yang menarik untuk dibaca sekarang dengan gampangnya kelelep sama retweetan temen saya yang isinya macem conversation yang gak penting juga saya baca.
Twitter yang dirancang untuk microblogging 140 karakter dan itu yang jadi daya tariknya, sekarang temen saya malah pake twitlonger pula. Nah lho. Gimana gak enek tuh.

Beberapa pengecualian, saya tetep follow temen lama saya di twitter meskipun dia ReTweet-abuser karena saya udah jarang banget handle akun Facebook saya. Hiks.
Untuk temen yang tiap hari ketemu mah kalo dia RT-abuser, saya unfollow. Asli.
Kalo ditanya kenapa saya unfollow, jawab aja yang jujur: karena saya gak tertarik liat twit macem RT-abusing gitu. Kalo dia dewasa mah harusnya dia bisa nerima karena prinsip yangtadi saya bilang: "Karena menurut saya, gak follow di twitter bukan berarti gak temenan di dunia nyata."
Kalo ternyata dia ngambek atau marah atau lebih parahnya sampe musuhin saya, saya cuman bisa ketawa. Hahaha.
Saya gak pernah protes kok kalo ada yang mau unfollow saya. Saya bukan selebtwit, therefore, I'm not into celebtwit-minded. Saya gak se-diva itu, guys. Kalo mau unfollow, monggo :)
Saya gak peduli juga kamu mau ngomongin apa saya di belakang cuman gara-gara saya unfollow kamu atau sama sekali gak mau follow kamu.

Eniwei, ini kocak juga sih kenapa saya bahas follow-unfollow twitter disini x))

Sekarang keliatan, dan saya makin ngerti kenapa gak seharusnya saya hidup dengerin semua perkataan orang tentang kita. Mereka bukan kita.
Bagian dari "gak dengerin semua perkataan orang" di sini bukan berarti saya jadi orang yang gak pedulian juga. Ini lebih ke mendengarkan apa yang seharusnya bisa saya terima atau tidak. Membangun atau tidak.
Kalo mereka memberi kritik dan saran membangun, saya pun coba untuk mikirin, memang itu beneran sesuai sama saya atau tidak. Kalo ternyata setelah dipikir dan mengerti ada yang masih salah sama saya, saya masih belajar untuk mendengarkan mereka dan belajar untuk memaafkan diri sendiri untuk gak lagi berbuat yang gak seharusnya. Itu semuanya proses. Saya sedang melakukannya dan sekarangpun masih belajar.

Kalo mendengarkan dan mematuhi mereka dengan tujuan untuk membuat mereka puas atau memenuhi ekspektasi mereka yang berlebihan dan gak sesuai dengan saya, bukan lagi fokus saya. Itu namanya gak membangun. Kalau untuk kemajuan dan perkembangan bersama it's okay. Tapi, kalau hanya untuk kepentingan orang-per-orangan atau sekelompok orang, mending gak usah didengerin.
Saya utamakan apa yang menjadi prioritas dan fokus saya.

Egois? Ah nggak.
Daripada saya melakukannya dengan tidak sepenuh hati dan hanya kamu yang mendapatkan manfaatnya tetapi saya gak ikhlas? Makasih banyak ya.
Saya lebih bahagia seperti ini, karena, sekali lagi, saya gak bisa menyenangkan setiap orang.

"There are a lot of problems with living a life designed to fit everyone else’s expectations of you, though. The top three, as I see it, are:


  1. You can’t please everyone
  2. Their expectations may be based on a narrow, inaccurate view of you
  3. Your values could be wildly different from theirs." Ali Luke (http://www.aliventures.com/live-your-way/)
"You can't please everyone. When you're too focused on living up to other people's standards, you aren't spending enough time raising your own. Some people may whisper, complain and judge. But for the most part, it's all in your head. People care less about your actions than you think. Why? They have their own problems!" - Kris Carr (the New York Times Best-Selling author of Crazy Sexy Diet and Crazy Sexy Kitchen, a wellness activist and cancer thriver)

Thursday, 13 June 2013

Ngok.

I've just finished my Business Ethics final paper. Pfiuh.
I was so sleeeepppyyy. And now, my eyes are wide open.  o_O
So I decided to post something here.
Nobody will read. Don't bother.
I don't really care.
What I care is my blaberring thoughts really need to express this s**t.

So yeah, it's been a tough mid-year. And the toughest is still yet to come.
I'm tired. I had enough of whining, crying, throwing vent.

Sekarang aja ngomong gini. Entaran juga kambuh lagi. Yah, manusia.

If you're asking, what am I doing until early June..
A lot. I can't ask for more. Obviously, I won't.
I've gained much productiveness. (based on http://sprachgefuhl.blogspot.com/2011/06/how-does-productivity-differ-from.html)

I'm grateful for being so productive.
But, on the other side, I really need to breathe.
Chill. Relax.
Chillax.

This afternoon, my sister texted me. She asked me to spend my vacation in Jakarta.
She said, "There will be cooking demo. And the fee.. It's not pricey."
She sent me the schedule.
Whoa.
14 June. It's Chef Arnold. Will be showing cooking demo.
*faints*

Ah, let's see if I can make it.
That cooking demo is my motivation now. Ehehe..

Gimme hugs! Gimme hugs! :*


Friday, 24 May 2013

Hugs, anyone?

If one of you follow my twitter, remember this?






Saya juga bingung gimana ngomentarinnya. But, it's indeed true.
Perasaan itu selalu muncul. The urge to hugging people around me is one of huge issues in my life.

Hahahaha *ini ketawa miris sebenernya. Soalnya takut digaplok*

Well, entah sejak kapan. Kalo bisa dinget-inget, yang mana bikin gue tambah mumet, sekitaran gue lulus SMA kali ya gue ngerasa kayak gini.
Etapi, dari jaman kecil kayaknya gue emang doyan nemplok sana sini deh. Ah, entahlah sejak kapan.
Cuman, sekarang serangan-tiba-tiba-pengen-meluk-orang ini lebih menghantui otak gue.

Temen-temen gue sih yang lebih sering gue templokin terus gue peluk *faktanya, lebih gue remukin badan mereka daripada gue peluk hahaha*
Temen-temen gue yang gue peluk itu ya cewek semua. Dan gue masih straight kok. Easy. Hahaha
Terakhir gue peluk temen-temen gue yang cowok itu ya pas seminggu yang lalu, pas farewell gathering kepengurusan organisasi kampus. Guys, I hugged you all with sincerity, gak ada nafsu-nafsunya gue sama temen sendiri, apalagi kalian haha :D

Di Indonesia sendiri, pelukan-pertemanan antar cewek-cowok gitu pasti diartiin macem-macem. Yah, tergantung orangnya juga sih. Selama ini mah gue gak pernah peluk temen gue sambil grepe-grepe juga, FYI.

Kalo lagi seneng, bawaannya gue pengen sharing hugs.
Kalo lagi sedih, bawaannya pengen dipeluk.
That's simple.
Karena gak semua perasaan bisa gw ekspresikan dengan kata-kata. Buat gue, hal tersebut bisa gue 'ceritakan' dengan sentuhan; pelukan itu tadi.

Semuanya kembali lagi ke persepsi masing-masing. Tapi, menurut gue gak ada salahnya kok asal dilakukan dengan tulus, tanpa paksaan, dan tanpa niat terselubung ya.

Menurut penelitian sendiri, pelukan itu banyak manfaatnya untuk kesehatan. Di bawah ini adalah artikel yang gue dapet dari MindBodyGreen by Marcus Julian Felicetti


Hugging therapy is definitely a powerful way of healing. Research shows that hugging (and also laughter) is extremely effective at healing sickness, disease, loneliness, depression, anxiety and stress. Research shows a proper deep hug, where the hearts are pressing together, can benefit you in these ways:
1. The nurturing touch of a hug builds trust and a sense of safety. This helps with open and honest communication. 
2. Hugs can instantly boost oxytocin levels, which heal feelings of loneliness, isolation, and anger. 
3. Holding a hug for an extended time lifts one's serotonin levels, elevating mood and creatinghappiness. 
4. Hugs strengthen the immune system. The gentle pressure on the sternum and the emotional charge this creates activates the Solar Plexus Chakra. This stimulates the thymus gland, which regulates and balances the body's production of white blood cells, which keep you healthy and disease free. 
5. Hugging boosts self-esteem. From the time we're born our family's touch shows us that we're loved and special. The associations of self-worth and tactile sensations from our early years are still imbedded in our nervous system as adults. The cuddles we received from our Mom and Dad while growing up remain imprinted at a cellular level, and hugs remind us at a somatic level of that. Hugs, therefore, connect us to our ability to self love. 
6. Hugging relaxes muscles. Hugs release tension in the body. Hugs can take away pain; they soothe aches by increasing circulation into the soft tissues. 
7. Hugs balance out the nervous system. The galvanic skin response of someone receiving and giving a hug shows a change in skin conductance. The effect in moisture and electricity in the skin suggests a more balanced state in the nervous system - parasympathetic. 
8. Hugs teach us how to give and receive. There is equal value in receiving and being receptive to warmth, as to giving and sharing. Hugs educate us how love flows both ways. 
9. Hugs are so much like meditation and laughter. They teach us to let go and be present in the moment. They encourage us to flow with the energy of life. Hugs get you out of your circular thinking patterns and connect you with your heart and your feelings and your breath. 
10. The energy exchange between the people hugging is an investment in the relationship. It encourages empathy and understanding. And, it's synergistic, which means the whole is more than the sum of its parts: 1 1 = 3 or more! This synergy is more likely to result in win-win outcomes. There is a saying by Virginia Satir, a respected family therapist, “We need four hugs a day for survival. We need eight hugs a day for maintenance. We need twelve hugs a day for growth.
via www.live-large.org

Add caption


Translation:
Terapi memeluk jelas merupakan suatu cara yang ampuh untuk penyembuhan. Penelitian menunjukkan bahwa memeluk (dan juga tertawa) sangat efektif dalam menyembuhkan penyakit, penyakit, kesepian, depresi, kecemasan dan stres.  
Penelitian menunjukkan pelukan mendalam yang tepat, di mana jantung (sebagai "hati") menekan (dan bertemu) bersama-sama, dapat menguntungkan Anda dengan cara berikut:  
1. Pelukan dengan sentuhan-yang-mengasuh/mengayomi membangun kepercayaan dan rasa aman. Ini membantu dengan komunikasi yang terbuka dan jujur.  
2. Pelukan dapat segera meningkatkan tingkat oksitosin, yang menyembuhkan perasaan kesepian, isolasi, dan kemarahan.   
3. Menahan pelukan untuk waktu yang lama mengangkat kadar serotonin seseorang, mengangkat mood dan menciptakan kebahagiaan.  
4. Pelukan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Tekanan lembut pada tulang dada dan muatan emosional ini menciptakan aktivasi Solar Plexus Chakra. Ini merangsang kelenjar timus, yang mengatur dan menyeimbangkan produksi tubuh sel darah putih, yang menjaga Anda tetap sehat dan bebas penyakit.  
5. Memeluk meningkatkan harga diri. Dari waktu kita lahir sentuhan keluarga menunjukkan kepada kita bahwa kita dicintai dan istimewa. Asosiasi harga diri dan tactile sensation dari tahun-tahun awal masih tertanam dalam sistem saraf kita sebagai orang dewasa. Dekapan-dekapan yang kita terima dari ibu dan ayah kita saat tumbuh dewasa tetap membekas pada tingkat sel, dan pelukan mengingatkan kita pada tingkat somatik dari itu. Pelukan, oleh karena itu, menghubungkan kita ke kemampuan kita untuk cinta diri. 
6. Memeluk melemaskan otot-otot. Pelukan melepaskan ketegangan dalam tubuh. Pelukan dapat mengangkat rasa sakit, mereka menenangkan sakit dengan meningkatkan sirkulasi ke dalam jaringan lunak.  
7. Pelukan menyeimbangkan sistem saraf. Galvanic Skin Response dari seseorang yang menerima dan memberi pelukan menunjukkan perubahan dalam konduktansi kulit. Pengaruh kelembaban dan listrik di kulit menunjukkan keadaan yang lebih seimbang dalam sistem saraf - parasimpatis.  
8. Pelukan mengajarkan kita bagaimana memberi dan menerima. Ada nilai yang sama dalam menerima dan bersikap menerima kehangatan, untuk memberi dan berbagi. Memeluk mendidik kita bagaimana cinta mengalir dua arah.  
9. Pelukan yang begitu banyak seperti meditasi dan tawa. Mereka mengajarkan kita untuk let go dan be present in the moment. Mereka mendorong kita untuk mengalir dengan energi kehidupan. Pelukan membuat Anda keluar dari pola berpikir melingkar dan menghubungkan Anda dengan hati dan perasaan Anda dan napas Anda.   
10. Pertukaran energi antara orang yang saling memeluk merupakan investasi dalam sebuah hubungan. Hal ini mendorong empati dan pemahaman. This synergy is more likely to result in win-win outcomes.  
Ada pepatah oleh Virginia Satir, seorang terapis keluarga yang terhormat, "Kami membutuhkan empat pelukan sehari untuk bertahan hidup. Kami membutuhkan delapan pelukan per hari untuk perawatan. Kita perlu dua belas pelukan per hari untuk pertumbuhan. 
.... I find that love, is a miracle drug.
So, if you see me and really need to hug, ask me, and I'll give you a big bear hug :)
Eventhough, I suffer hypotension, doesn't mean I don't need hugs :)

Hugs, anyone?

Tuesday, 12 February 2013

Mind War

How can I find inner peace when I don’t even understand myself? When I'm not even able to manage what I feel? When everything I don’t like always be blamed?
Now I’m at the point, the moment, when I’m tired of myself whining about everything.
Am I the only one who always feels this kind of war: tired of whining about everything yet had enough of keeping all the feelings by myself?

This war is killing me slowly. I don’t wanna die in this kind of state. My soul needs peacefulness, anyway.
Nobody knows what I feel because I don’t tell ‘em.  But, thank you for those who know what I feel without, even, a single thing I tell about what I struggle with to you. *huugsss*

I need to get 2 days or maybe, more, to go out of town. Need some refreshments of all those 6 hectic months waiting for me starting next week. Well, I don’t get any free days, anyway. So, yeah, I’m trying to keep my heart, my soul, my body, and my mind stronger and the most important thing is stay on the right track, keep my mind in sanity.

By the way, about a week ago I had the same dream I got last year and years before. It keeps coming to me. Weird. Why do I still can remember that? Same dream, same person.
First, I never had this guy on my mind in about 6 years ago. Yeah, since then, I never ever thought about him because we never get in touch ever since. I don’t even have his facebook, or twitter, or e-mail, or even phone number (since I changed my handphone, actually).
I never tell my friends, even my close ones, about what I feel about him. Hahahaha I succeeded in keeping it for years and nobody knew, until two weeks ago I tell my friend (since high school) about it. And she quite shocked why could I keep the feelings for years. Well, I’m not actually keeping it for long time. I just don’t remember if I really had serious infatuation or not hehe.

I never tell it to my friends because it was way too dangerous. My closest friends in junior high didn’t even have the control to keep their body language safe in front of every boy I like. We were that cheesy back then hahaha. So, for the sake of privacy, I kept it for myself.
I still don’t understand, why him? Why not the boy who I gave a birthday present instead? *that was a huge mistake and still can't stop laughing of thinking of it hahahaha* And why always this dream keeps coming over and over again every single year? First I got this dream when I was in eleventh grade. Aahh way too weird. Such a mystery. Or just stupid coincidence universe made?

In my dream, he was my boyfie and we were cuddling each other. He’s chest was so warm and huggable. He hug me so tight yet I still can breathe so easily. It was like time stopped and only us living in our world loving each other. He smiled. We laughed.
WAIT. Gross.
It’s kind of awkward to tell you how it happened in my dreams.
Until now, I don’t want to know how is life he living in.

Okay, a bit.
But, hey! I still can survive living without any information about him. I’m alive. No worries.
Dream about him is one thing, knowing him is another. I choose to not knowing him. So, nothing to loose.

Friday, 4 January 2013

Happy New Year 2013!




Holla!
Had a great NYE party 5 days ago.
I took the pictures hahaha. Obviously, you can't find me there.

I drank 2 cans of Bear Brands milk before I slept to neutralize my body from alcohol and the morning after I couldn’t stop farting hahaha. *backsound: toilet flushing*

So yeah, I feel good now.
Since it was  awkward and not-so-me party I went last night, 50 fun-50 nightmare, I’m not gonna tell you. I just love being surrounded by my four friends at the party, minus the awkward part of course hehe. I’m not a party animal, you know. It was just not my hangout place I guess.

NYEs sebelumnya memang gak terlalu seru, but hey, I spent all the NYE party in sober before, yang ini mah overrated deh. Tapi tenang, saya masih berpikir dengan jernih tadi malam, jadi gak ngelakuin hal-hal yang aneh yang bikin orangtua saya nangis. Well, at least, in my perspective they won’t. So, for the next NYE and all, I will never spend that kind of party anymore. Amen.

Sebenernya saya udah nulis ini 3 hari yang lalu, 1 Januari 2013 sekitar jam 8 setelah bangun pagi, tapi baru dipost sekarang deh karena saya terlalu malas keluar kamar untuk nulis di komputer dan modem saya belum diisi pulsanya lagi secara saya gak punya jaringan WiFi di rumah hehe. Untuk tahun 2013 ini resolusi saya bisa dibilang bakal nambah dari hari ke hari tapi yang sekarang saya pikirin antara lain;


  1. Lebih dekat dengan Tuhan dan semestanya secara spiritual. Sounds cliché, but this is what I really need to conquer the world. 
  2. Mendengarkan kata hati saya dengan lebih peka. Gak lagi gegabah dan ikut-ikutan. Stay true to myself.
  3. Menjadi lebih dewasa, sabar,  dan bijaksana. Menyelesaikan apa yang saya mulai dengan tulus, sepenuh hati, dan berjiwa besar. 
  4. Lebih menghargai hidup, menghargai dan mencintai setiap orang-orang yang tulus mencintai saya apa adanya, membahagiakan mereka seperti mereka membahagiakan saya. Cherish every moment. 
  5. Lebih bisa fokus di bidang akademik, ikut extension English course, gak setengah-setengah ngerjain tugas, ujian, dan sebagainya. Nilai bagus bisa tercapai, kerja di tempat yang diinginkan jadi lebih mudah. Amen. 
  6. Lebih mandiri dan gak bergantung sama orang lain karena yang bisa saya percaya untuk mengambil langkah pasti saya sendiri *back to poin 1-3*.
  7. Melupakan hal buruk yang sudah saya alami, berusaha penuh untuk tidak mengulanginya. Mendengarkan kritik dan saran yang membangun dan berusaha mempertimbangkannya. 
  8. Mengurangi keluhan-keluhan dan gerutuan yang tidak perlu. Mencintai apa yang sudah saya miliki, menghargainya, merawatnya, bersyukur karenanya. It’s better to light a candle than cursing the darkness. 
  9. Mengelola keuangan lebih baik, gak boros atau buang-buang duit untuk hal yang gak perlu. Investasi sebagian tabungan ke reksadana, since I'm 21. 
  10. Lebih sering baca buku daripada nonton TV. Practice my English both in verbal and written. Lebih sering nulis yang ada di kepala daripada sakit kepala. 
  11. Bereksperimen dengan makanan-makanan baru, terutama kuliner Indonesia secara saya orang Indonesia tulen hehe. Oh ya, pizza juga harus bisa bikin setelah selama ini mengalami trial-and error, kebanyakan errornya hahaha.
  12. Have chances to attend awesome gigs of talented musicians. Including, meet them in person and have a chitchat with ‘em too would be great. 
  13. Bikin paspor. 
  14. Menang kuis yang hadiahnya gadget terbaru, voucher belanja, voucher hotel, barang-barang yang saya pingin atau butuh tapi gak bisa beli, atau uang juga boleh deh hehe :p



Nah kan, banyak. 14 poin. Angka kesukaan saya, empat belas :D
Saya berharap sekali ini semua bisa tercapai dalam 1 tahun dan semoga bisa ada tambahan pencapaian di luar resolusi ini.

Ada seseorang yang saya lupa siapa, mengungkapkan kalimat ini: “Seseorang dengan prinsip hidup yang jelas itu pasti akan selalu berkata “Nanti gimana?” Dibandingkan “Gimana nanti.””

Hidup tanpa harapan itu hampa. Terombang-ambing ombak ketidakpastian, terkapar tanpa asa.
Harapan itu membangkitkan jiwa yang tak berdaya.
“There is only one thing that makes a dream impossible to achieve: the fear of failure.”
― Paulo Coelho, The Alchemist 

Thursday, 20 December 2012

Sentimental



Being so fed up.
Yes. I dunno what hormones affecting me since I woke up from my peaceful nap, this afternoon.
No, it wasn’t peaceful no more since I got this bad feeling.
My other-self (who speaks real honest than myself) in my head, blame me for I took “the decision” about 7 months ago. Creeps me, haunted me soon after that day. A very huge mistake ever done in my life. I shouldn’t take it. It remains as a regret.
Karena sudah terlanjur juga ya ada baiknya sekarang saya sedikit-sedikit berusaha untuk mengabaikan perasaan ini. Toh, ya tinggal kurang-lebih 6-7 bulan lagi kelar. Well, teman-teman terdekat saya pasti ngerti banget sekarang saya ngomongin apa.
Saya sampe belum tidur jam segini karena saya mikirin hal ini. Kalau gak ditulis, rasanya berat banget di dada. Nyesek banget. I don’t care if you consider this as some kind of whining. I do whine. This is whining. So, yes, ini memang keluhan saya.

Saya berusaha menyembunyikan perasaan ini, sejak lama. Saya berusaha bertahan. Sampai sekarang. Setiap ada yang menyelipkan nama itu, perasaan saya yang tadinya datar-datar aja, atau lagi seneng, bisa tiba-tiba langsung drop. Males dengernya. Tiap ada yang bilang “Ciee.. jadi ini gitu sekarang. Udah naik dong ya. Keren banget”, rasanya itu orang pengen saya tampar bolak-balik, saya lipet jadi origami, saya injek-injek. Seriusan. Tapi itu di hati saya yang terdalam. Karena saya biasanya cuman bisa senyum asem terus ketawa dan bilang “Dih. Maksudnya apa? Aneh.”
Di sana saya mempunyai teman-teman yang baik. Tadinya mereka sama sekali belum bisa disiplin, tetapi sekarang saya sudah melihat kesungguhan mereka untuk mencoba berusaha mendisiplinkan diri dan teman lainnya. Yang saya gak tahan mungkin ada yang attitudenya gak cocok sama saya dan bodohnya saya juga gak bisa mengkomunikasikan hal itu. Selera bercandanya juga termasuk aneh dan cenderung filthy. Saya gak suka. Okay, nobody’s perfect. Saya gak bisa cocok sama semua orang, toh ada juga orang yang gak cocok sama saya. Fair enough.

Kembali lagi karena keterlanjuran itu, saya berusaha untuk mencoba mengikhlaskan diri di jalan yang sekarang tempuh untuk mencapai apa yang dulu saya impikan seperti idola saya yang anak HI UI itu haha :p I take this mistake as a lesson for me to get wiser than before. To be honest, being a catalyst, being a leader,  bukan jalan saya mungkin. Karena saya ternyata punya mimpi yang lain, yang membuat saya hidup, yang membuat mata saya berbinar tiap saya mendengarnya. Semuanya terasa benar ada di kepala saya, di hati saya. Saya rasa, itulah yang membuat saya semangat menjalani hari saya.

I really want to take up cookery lessons, gastronomy stuffs. Mungkin nanti saya akan sekolah lagi setelah kuliah, atau bekerja dulu untuk bersekolah lagi.
Saya ingin menikmati festival music di Indonesia, Asia, lalu dunia. Dear, talented yet underrated musicians, wait for me!
Saya juga ingin sekali menghadiri konser musisi favorit saya, dari konser yang besar, sampe intimate concert mereka.
Saya ingin keliling dunia dan nyobain setiap street food sampe makanan kebangsaannya. Entah backpacking atau gimana, tetep saya mau jalanin.
Saya ingin bikin bistro. Sophisticated bistro. Entah di mana. Ini mimpi saya.
Saya pengen meluk Armando Reed, Oli Pettigrew, Henry Golding, and Jason Godfrey. *cheesy wishes haha*
Dan ada mimpi-mimpi lain yang jadi my little treasures for myself dan ada juga yang mungkin bisa muncul begitu aja di pikiran saya, entah sekilas, atau menghantui saya hahaha :p



Earlier this afternoon,at 3.40 p.m, sunrays hit my left face after the rain. Somehow, the warmth of the rays stroke my chest. In a good way. It touched me in its own way. I still can feel it now. Feeling so sentimental I almost cry all of sudden. I assume that was a message brought by the universe.”This is your life, don’t worry about things. You are tough and can get through all of this with your head held up high. Do the best of the bestest.”